Monday, August 9, 2010

Tembok-Tembok Ilusi Sri Dewi


           Aku berjalan dengan sesak yang mendalam, jalanan ini begitu panjang dan melelahkan. Dirinya yang kusayang telah menyakitiku hingga tembus ke jantung, seperti ingin berhenti bernafas sejenak mengingat semua yang terjadi. Tak ada kesanggupan lagi untuk melihat kenyataan, mendengarnya seperti bom molotop jatuh tepat dimukaku. Ya Tuhan, betapa bodohnya, semuanya telah kuberikan, kehormatan pun hilang ditelan kenikmatan dan rasa sayang. Ku tak sanggup hidup dalam bayang-bayang ini, aku seorang perempuan, dan Engkau ciptakan aku sangat sensitif, sangat perasa. Aku tak ingin berpisah darinya, tapi ku tak berdaya dan hancur saat bersama. Mengapa Engkau membuatku peduli bahkan dia sama sekali tak peduli, mengapa Kau membuatku terhanyut bahkan dia sama sekali tidak. Kejamnya dunia ini oh Tuhan, apalagi tercipta sebagai seorang perempuan.
            Ku berhentikan kakiku di depan kedai kopi di tepi jalan, tak tahu selang berapa lama aku telah berjalan menyusuri jalan kota yang tak pernah sepi ini. Tanganku menggenggam keras gelas minuman kopi mocanino float yang baru diberikan oleh pelayan, tapi sedikitpun tak kurasakan dingin. Hatiku terlalu panas dan meleleh hingga akupun merasa muak dengan diriku sendiri. Dia memang kekasihku, sudah lama kami bersama, 7 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bersama dalam sukar-senang, oh kenangan yang begitu indah kini selalu menghantuiku, hingga tak tahu apakah bisa seindah dulu. Ya, aku terjebak dalam ruang dan waktu yang lalu, aku terperangkap hingga tak sanggup lagi untuk keluar.
            Ku melihat kearah trotoar dan jalanan, begitu banyak kendaraan lalu lalang, sepintas ada keinginan berlari ketengah-tengah dan membiarkan diri ini mencapai kematian yang indah mungkin, karena dunia ini begitu neraka jahanam. Ditengah bising kendaraan terdengar suara Roni yang memarahiku, mengapa aku masih mencintai orang yang tak lagi menganggapku ada? Mengapa aku memelihara dan menambah rasa sakit dengan bersamanya? “Oh maafkan aku Ron, semakin aku mencoba lepas, semakin aku menginkannya untuk kembali kepadaku”, dan dia menjawab, “hey, tak sadarkah kamu dia telah bosan dan mencampakkanmu!!!”, entah setan mana yang merasukiku hingga kumarah kepada Roni dan lebih memilih kekasihku, walau seluruh dunia pun tahu bahwa Roni teman baikku semenjak kecil. Dengan jengkelnya Roni pergi dan mengatakan, “nikmatilah dirimu sebagai bayang-bayang kekasihnya dulu dan kau jauh tak lebih baik dari kekasihnya dulu, oke. Lengkapilah penderitaanmu samapi akhir”. Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan, masalah ini begitu berat bagiku, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, maafkan aku Ron, ini tak seperti yang kau lihat.
            Ku menoleh kearah cermin toko depan kafe menghadap ke trotoar, kulihat mukaku dengan jelas, begitu kusut, rambutku acak-acakan, kelopak mataku tebal dan berat, mukaku tampak lebih tua akhir-akhir ini, dan bajuku terlihat tidak karuan dengan setelan yang asal. Hidupku hancur, dan akupun semakin membusuk di dalamnya. Aku stress, bingung, bosan dan ingin mati. Apakah seperti ini hidupku, berbeda dengan khalayan masa kecil saat ku yakin menjadi seorang putri kecantikan dan wanita karier yang menarik. Sekarang kenyataan begitu lain, begitu kejam.
            Ku rebahkan pipiku di atas tangan seraya melihat kesekeliling, pelayan pria itu yang tadi melayaniku, mengapa sekarang dia begitu sopan saat melayani gadis di meja ujung tersebut, sedangkan kepadaku dia hanya sekedarnya, memang wanita itu terlihat menarik, tapi kurasa dia sama cantiknya denganku bahkan aku yakin lebih cantik. Otakku mulai berpikir dan menganalisis, hitung-hitung sambil menghilangkan pikiran yang menyesakkan ini aku ingin memikirkan hal bodoh lainnya. Ku amati wanita itu dengan seksama, dia menggunakan setelan yang sederhana, sopan, tetapi selaras. Dia hanya mengenakan baju putih, dipadu dengan rok hitam yang menutupi baju putih bawah dada hingga bawah pahanya. Begitu simple dan trendy, gaya duduknya mencerminkan kepribadiannya yang sopan, merendah tetapi bernilai. Rambutnya yang ikal dibiarkan terurai menutup setengah wajahnya yang ditata dengan rapi, mukannya bersih dan bersinar dengan senyum hangat setiap bertemu orang yang memandangnya. Oh, bahagiannya perempuan itu, pasti hidupnya sangat menyenangkan dan menarik hingga banyak lelaki pasti akan jatuh cinta kepadanya. Sambil membaca buku dia menikmati kopi esspreso di meja. Walau sendirian dia tak terlihat kesepian, sangat puas menjalani hidup. Andai saja aku seperti dia.
            Lama aku memandangi dia hingga tak sadar aku membandingkan diriku dengan dirinya, diriku yang sekarang kacau, tak sempat merawat badan ini karena memikirkan kekasihku yang selalu menylahkanku, selalu mebandingkanku dengan sosok lain wanita yaitu mantannya. Begitu bersemangat kekasihku menceritakan mantannya yang dianggap sebagai sosok yang sempurna, kepribadian yang tinggi dan membuatnya tak bisa melupakannya, walaupun dia juga mengatakan aku lebih cantik daripada mantannya, tetapi aku tetap merasakan sakit dan sangat perih. Teringat kembali pertama dia mencubuku dengan antusias, melepaskan semua pakaianku, dan merenggut semua kehormatanku. Oh ayah oh ibu, maafkan aku tak bisa menjaga kepercayaanmu padaku.
            Kembali yang ada dipikiranku hanya mati, kuinggin cepat mati dan mengakhiri, aku sudah tidak peduli lagi. Sambil tergopoh kulanjutkan langkah kaki hingga entah kemana, sepanjang jalan melihat berpasang-pasang kekasih yang bermesraan membuat hatiku semakin hancur tak karuan, mengapa aku dan kekasihku tak bisa semesra mereka?seperti tahun-tahun dahulu saat kami saling bercengkrama? Wajah-wajah mereka begitu bersinar dan bahagia? Dan setiap kali kulewati cermin, wajahku terlihat sangat muram dan membeku dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan hidup. Hingga akhirnya tak sadar ku menyalahkan Tuhan yang membuatku begini. Bukankah atas ijinnya hati dan persaanku tak bisa lepas dari kekasihku yang tak pernah peduli lagi kepadaku? Bahkan, saat aku datang sering dia menyuruhku pulang dan memarahiku. Sering aku di duakan dan aku tetap bertahan.
            Tak sadar, langkahku sampai ditengah taman kota, aku duduk di bangku tamannya, mataku menengadah keatas, memandang awan, kuharap diatas sana Tuhan akan melihatku dalam kehancuran dan kegagalan, kuharap dia akan kasian dan memberiku jalan keluar. Diam dalam palung hati aku berdoa dan terus berdoa, air mata ini pun keluar dengan dersanya, asinnya sampai kemulutku dan masuk kedalam kerongkonganku. Ternyata aku tak mendengar suatu jawaban dariNya, mungkin aku harus menemuinya dan langsung menyakannya, mungkin kematian adalah jalannya. Kulangkahkan kakiku dan melangkah dengan lemas, bersiap mencari tempat dipengakhiran hidup ini.
            Kakiku melangkah dengan lemas menyelusuri taman kota hingga tiba-tiba tersandung bebatuan didepannya, badanku terdorong kedepan yang ternyata genangan air, sontak seluruh tubuh ini kotor, air-air genangan pun masuk kemulutku yang terbuka saat teriak kaget. Oh apalagi ini, semakin kacau hidupku ini. Tanpa berpikir panjang dalam keadaan kotor dan tak karuan ini aku masuk ke sebuah toko butik yang tepat ada di depan taman kota tempatku jatuh, tanpa peduli aku meminta pelayannya yang dengan senyum ramah menyambutku untuk memilihkan setelan baju yang kira-kira sesuai dengan ukuranku untuk mengganti baju yang kotor ini. Terserah seperti apa aku sudah tak peduli, aku hanya ingin berpakaian dengan bersih saat ini sebelum aku mati. Setelah mendapatkan satu stel aku keluar mencari toilet untukku membersihkan badan dan mengganti pakaianku, tetapi disamping butik ada sebuah salon kecantikan yang menawarkan spa dengan perawatan full body. Tidak tahu mengapa, langkahku mengarah kesana, mungkin aku ingin memanjakan badan dengan maksimal sebelum aku mati. Dan aku akui, akupun sangat jarang melakukan perawatan tubuh, ke salon tak lebih hanya memotong rambut dan perawatan seadanya.
            Setelah perawatan dari ujung rambut hingga kaki kuterasa sangat segar dan bugar kembali, lalu ku kenakan baju yang tadi aku beli dibutik, ternyata baju itu sangat indah dan pas aku kenakan. Kulihat seluruh badan di cermin dan kudapati orang lain, yang tak pernah aku temui, sangat indah dan menawan. Saat melangkah kaki keluar seorang pelayan wanita yang ternyata wanita di kafe kopi tadi siang memujiku, “nona sangat cantik dan menawan sekali, iri sekali dengan nona, pasti diluar banyak lelaki yang akan mati-matian mendapatkan nona”. Tersentak aku terdiam menatapnya dalam, dia orang yang tadi aku kagumi hanya selang beberapa jam memujiku dengan begitu tulusnya, lalu aku sadar siapa aku dan apa yang harus ku lakukan. Ku ambil handphone ku didalam tas dan ku menelepon kekasihku, dengan tegas kuungkapkan bahwa aku minta putus. Kekasihku tertawa dan langsung menyetujuinya. Aku sudah sadar bahwa aku terjebak dalam ilusi perasaan yang malah menghancurkanku, dan aku punya kehidupan yang baru yang harus aku jalani, kehidupan yang energik dan penuh pesona. Aku harus mencintai diriku sebelum aku mencintai orang lain, karena itulah yang akan mempengaruhi hubunganku.
            Keluar dari salon, kumantapkan kaki melangkah kedepan, wajahku bersinar dengan senyum yang mantap, inilah dunia yang harus aku lalui dengan penuh semangat tanpa ilusi lagi yang menyesatkanku dalam black hole. Oh Tuhan, terimakasih engkau telah mendengar do’aku, aku berjanji tak akan mengecewakanmu, tak akan mengumbar nafsu dengan murah dan tak akan hancur karena cinta, tapi akan kubuat tebaran cinta dengan keindahan ini.
- Tembok-Tembok Ilusi Sri Dewi

Sunday, August 8, 2010

Cintaisme


 Hasan tak pernah bisa berhenti memikirkan Nesy, baru kali ini dia merasa ditaklukan. Seperti orang gila, tersenyum sendiri, bicara sendiri,dan sebentar-sebentar menatap matanya dalam cermin mencoba menyakinkan diri. Hatinya terbakar oleh perasaan yang Hasan sendiripun tak tahu, dia sendiri tak yakin itu cinta.
            “Kecilin suara musiknya oi..!, berisik. Telingamu tuli apa nyampek dengerin segitu kerasnya” Teriakan kak Birma menampar hayalan Hasan
            “Iya..iya…, bawel banget sih, ga tau orang lagi asik apa” sambil mengecilkan musik dengan terpaksa
            “Sialan, kenapa tuh manusia dah pulang yah, biasanya juga jam 4, inikan baru jam 2. Aeh, klo ada dia gw ga bisa dengerin musik kenceng-kenceng” Gerutu Hasan dalam hati
            “Hey San!” Tiba-tiba kak Birma sudah di depan pintu kamar Hasan
            “Apa lagi sieh” Jawab Hasan dengan nada kesal
            “Pak RT udah peringatin kakak 3 kali, tetangga kiri udah 10 kali, tetangga kanan 6 kali, kaca dah pecah kena lempar batu 3 kali, tuh semua peringatan buat elo kalo ngidupin musik yang biasa-biasa jha , mereka terganggu tolol!” Serang kak Birma
            “Ya elah, peduli setan dah, itu khan urusan mereka dengan telinga mereka, lawan suara dengan suara dong, ah gak etis, cara pengecut tuh, pa lagi ampek mecah kaca, buset dah, jaman dah demokratis masih ajha anarkis” Hasan mengelak serangan kakaknya
            “Oi curut, dibilangin malah ngeles, jitak juga ntar lo, kita idup dinegara orang bego, ga usah macem-macem dech lo!” Serangan kedua
            “Nah, lo tu ye, makin tinggi sekolah makin tolol jha, dah jelas-jelas nie masih wilayah Indonesia, bukan negara lain” Jawab Hasan berlagak bingung
            “Dasar otak kebo lo, maksud gw bukan daerah asli kita, tapi daerah orang asli pribumi sini kebo” serangan tambahan
            “Ngomong kek, santai jha my brother, ntar gw ngomong dech ma mereka”
            “Mau minta maaf lo?” Suara dan raut muka kak Birma penuh harap
            “Kagak lah, enak ajha, gw disuruh minta maaf ma mereka, ogah ah. Gw mau ancam balik mereka, klo berani lawan suara dengan suara, ga usah pake peringat-peringatan tai kucing! Klo masih jha marah-marah pa lagi mecah kaca kita hajar mereka” kata Hasan dengan semangat berkobar-kobar
            “Anjing lo, klo mau mati ya mati sendiri sana! Digebukin orang satu kampung baru tau rasa lo!” Ngerasa ga ada gunanya ngomong ma adiknya, kak Birma langsung pergi meninggalkan Hasan dan menuju kamarnya, tetapi langkahnya terhenti di depan pintu kamar, lalu berteriak kepada Hasan
            “Oi cumi, tadi temen lo yang namanya Sarman dateng, tadi dia coba bangunin lo tapi lonya ga bangun-bangun, makanya dia langsung cabut lagi”
            “Anjing, yang bener lo” Hasan kaget
            “Napa ga lo jha yang bangunin gw, klo elo khan pasti gw kebangun”
            “Itu urusan lo ma tidur lo, makanya tidur jangan kayak kebo, hahaha” Birma merasa puas melihat adiknya kaget lalu masuk kamar dan menutup pintunya
            Seperti kesetanan, Hasan mencari handphonenya di dalam kamar, ia baru sadar, sejak kebangun ia hanya menghidupkan musik dan menghayal-hayal wanita yang dikaguminya, malah belum sempet cuci muka
            “Anjing! Ngumpet dimana tuh HP” Matanya melirik kanan kiri serta tangannya terus mencari-cari. Kamar Hasan memang lebih mirip disebut gudang daripada sebuah kamar tidur, tidak sdikitpun rapi dan tertata, semua asal, malah Hasan sering lupa bedain baju bersih atau kotor, kapal remuk, itulah sebutan kamarnya
            “Oi kak, misscallin HPku sieh!, penting tuh, gw kudu ngubungin Sarman, gw dah janji ma dia” Teriak Hasan depan kamar Birma
            “Ga ada pulsa” Jawab Birma dari dalam kamar
            “Aeh..pelit amat lo nie, sms jha dah, ntar biar gw cari suaranya”
“Berisik lo, gw mo istirahat, nie sms sendiri” Membuka pintu dan menyerahkan HP ke Hasan
“Nah gitu dionk,  saudara tuh kudu idup secara komunal, biar kekolektifan makin solid”
“Apa lagi seih mau lo!” Kak Birma seakan tahu Hasan ada maksud lain
“Sekalian pinjem mobil lo, motor gw masih dibengkel belum kelar” Pinta Hasan dengan muka memelas
“Tuh kuncinya dimeja, udah jangan ganggu gw, gw mo tidur, anjing lo!” Seraya menutup pintu kamar dengan keras
Singkat cerita, Hasan janjian dengan Sarman di CafĂ© Kopi  tengah kota, Sarman adalah orang yang dimintai tolong buat ngorek informasi tentang Nesy, karena keterbatasan daya dan kemampuan, Hasan hanya bisa mendekati salah satu teman lama Nesy, ya si Sarman ini
“Eh sory banget boy, jadi ga enak tadi lo bangunin tapi gw ga bangun-bangun” Hasan memulai obrolan dengan ungkapan maaf
“Iya, gapappa San, nyantai jha, tadi gw liat lo tidurnya pules banget, makanya gw juga ngerasa ga enak jha klo bangunin lo terus-terusan” Sambil senyum menjawab Hasan
“Beneran loh, sory banget. Tadi malem gw begadang gara-gara baca-baca berita di internet, eh malah jadi keasikan, hehehe, maklum, gw dah g percaya ma TV” Hasan mencari pembenaran
“Nah, emang napa kok lo ga percaya?” Nah, malah si Sarman yang penasaran
“Yaelah brow, masa orang yang terkenal pinter di kampus kayak lo ga ngerti maksud gw, udahlah ga usah dibahas”
“Iya beneran, serius nieh gw, cerita donk” kata Sarman memaksa
“Gini, tuh tivi kan kebanyakan punya orang-orang birokrasi, pasti beritanya sarat dengan kepentingan politik lah, yang ada malah penghasutan opini publik”
“Maksud lo penghasutan gimana?” Sarman bingung
“Ya itu tu, berita yang da di TV” Ketus Hasan
“Maksud lo, making ga ngeh gw” Sarman makin bingung
“Coba dong lo perhatiin, berita yang ada ditivi jarang ada yang menyentuh langsung tentang kebijakan yang benar-benar berimbas pada masyarakat, malah yang paling exist masalah politik, konspirasi, apalah, tapi yang menyentuh langsung masyarakat mana? Ga pernah tuh gw liat menjadi berita utama minggu ini. Bahkan, saat orang ramai berbicara tentang berita itu pas gw tanyain malah ga ngerti, pusing katanya, bentar-bentar berubah perkiraan dan opininya, ujung-ujungnya masyarakat jenuh dan apatis, terus mereka ga sadar, kebijakan yang benar-benar mengatur mereka terabaikan infonya. Gw takutnya masyarakat makin ga peduli, mereka bilang itu urusan negara, padahal mereka juga khan bagian dari negara dan mau ga mau kudu ikut nimbrung urusan negara, masa mau-mau ajha jadi boneka, anjing ga?”
“Ya, gw ngerti maksud lo, udahlah, ga usah dipikirin, bisa apa kita nie, itu emang urusan orang atas, urusan kita kuliah selesai dengan prestasi, orang tua seneng, kerja dech” Jawab Sarman sambil cengengas-cengenges, Hasan melongo, percuma dia ngomong panjang lebar pikirnya
“Ya udah dech ga usah dibahas, gimana perkembangan terbarunya?” Segera Hasan mengkondisikan ke pokok tema
Tiba-tiba sirene polisi berdatangan, ternyata Bank diseberang CafĂ© tengah dirampok,  orang-orang pun ternyata baru sadar Bank tengah dirampok setelah datangnya Polisi, mereka keluar untuk melihat. Lalu secara mengejutkan, seorang lelaki gemuk setengah baya yang berada disebelah meja Hasan dan Sarman berdiri memandang tajam dari balik jendela melihat kejadian tersebut sambil berbicara lantang;
“ Tuh, akibat pada miskin, orang jadi berani merampok disiang bolong, katanya negara kaya sumber alam, tapi nyari makan jha susah, nyampek ngerampok lagi, sial!edan tenan” Suara orang itu lebih mengagetkan Sarman dan Hasan daripada bunyi sirene ataupun toak polisi diseberang jalan.
 Sarman pun ikut penasaran karena semua orang bergegas keluar untuk melihat aksi kepahlawanan polisi menangkap perampok yang belum diketahui jumlah dan sanderanya. Tiba-tiba tangan Hasan menarik tangan Sarman dan memaksanya duduk sambil berkata ;
“Udahlah men, itu urusan polisi dan tugasnya, ini hal paling sepele jika dibandingkan kejahatan para pemimpin kita, ga perlu dilihat kalo ngeliat yang besar jha kita belum mampu, ok boy!” Kata Hasan dengan muka serius
Sarman  cuma bisa terbengong mendengar kata-kata Hasan, “Orang ini kok aneh” pikirnya dalam hati
***
Hari-hari terasa makin menantang, sedikit informasi tentang Nesy telah Hasan dapatkan, tinggal gerak, gerak dan gerak, hatinyanya sangat menggelora, mungkin terlalu menggelora untuk orang seperti Hasan, orang yang terkenal apatis tentang cinta, bahkan statemennya yang paling sering terdengar adalah “aku tak percaya cinta!”, dan sekarang, dia sendiri bingung memutuskan perasaan apa itu
Serangan pertamanya adalah sms, sekali, dua kali, hingga duapuluh kali tak satupun smsnya dibalas.”Oh sungguh ironis” pikirnya
“Kayaknya gw kudu nelpon nie, kumpulin kekuatan dulu ah” Sambil menarik nafas dan mengeluarkan pelan-pelan
“Bismillah”  Hasan menyakinkan diri dan mulai memencet nomor telpon Nesy
“Ah sial, dimatiin. Anjing!, eh salah, untuk dia ga boleh ngomong anjing, coba lagi ah” Semangat masih seratus persen
Hingga 10 kalli panggilan pun semuanya direject, tapi heran, bukannya patah semangat malahan makin semangat, Hasan mulai memutar otak, cari strategi
“Hmm, kayaknya harus bertemu langsung” Pikirnya dalam hati
Nesy punya kebiasaan pergi keruang baca waktu jam kuliah kosong, Hasan pun menggunakan kebiasaannya itu dalam strategi  pedekatenya. Pertama-tama, dia menghubungai  Sarman, Hasan memintanya untuk menemani Nesy di ruang baca, trus  Hasan lewat, nah, disaat itu nanti Sarman berpura-pura memanggil Hasan. Jadi si Nesy khan ga bisa menghindar
“Hahaha, kena dech, pasti rencana ini berhasil” Seperti orang gila, Hasan tertawa sendiri di ruang tamu
Hari yang ditentukan telah tiba, semua rencana berjalan lancar sampai Sarman memanggil Hasan dan menyuruhnya duduk disamping Nesy. Tapi semua rencana berantakan sebelum pantat Hasan duduk dikursi singasananya disamping Nesy karena tiba-tiba atap bocor tepat diatas kepala Nesy, tanpa mengucapkan apa-apa Nesy langsung melangkah keluar dari ruang baca dan hanya melempar salam ke Sarman, seakan-akan Hasan tak pernah ada disitu
“Anjing!kampus apaan nieh, udah mahal masa masih jha ada yang bocor, itu lagi, kursi banyak yang rusak. Ah..tai ah” Teriak Hasan kesal setelah Nesy keluar dari ruangan tersebut
“Sabar, sabar dong brow, lain kali ya” Sarman mencoba menenangkan Hasan. Aneh memang, disiang bolong yang terang gini kok ujan deres langsung turun, pas momennya ga pas lagi, kayaknya emang takdir
“Gimana kalo kita protes jha yuk man?kita khan sebagai mahasiswa punya kekuatan, itulah student power” Dengan semangat menggelora
“Ogah ah, gw males nyari perkara” Sarman mulai kwatir
“Ah lo, liat nieh, gara-gara bocor gw gagal ngobrol ma Nesy” Dengan nada sedih
“Ya udah sieh, lain kali ajha, ga usah lebay gitu sieh” Sarman malah mulai jengkel
“Eh  San, lo tau ga, Nesy ga suka ngeliat gaya lo yang terlalu menggila seperti ini, jadi mahasiswa yang rajin dan baik dech, ntar pasti dia suka ma lo. Pa lagi liat tuh, pakaian dah kayak mo maen jha, bedain donk pakaian maen ma ke kampus”
“Yaelah boy, nie dah gaya ma pribadi gw, namanya mahasiswa kudu punya semangat yang menggebu-gebu, tahan banting, apa adanya, jangan malah terlihat beda atau “wah”, pa lagi kita hidup ditengah masyarakat, bukankah suara mahasiswa sering dibilang suara rakyat, masa mau memisahkan diri dari masyarakat yang mayoritas miskin, klo rakyat kita dah pada kaya gw baru mau make pakaian yang rapi dan bagus klo ke kampus, hahaha. Rapi, ah ga rock n’ roll” Jawab Hasan dengan penuh kepuasan
“Ya dah dech, terserah lo ajha, yang jelas Nesy ga suka ngeliat orang kayak elo, pa lagi deket, kayak ga punya cita-cita jha”
“Eh cumi, emang gw ga punya cita-cita, tapi gw yakin gw punya kemampuan buat menjadi cita-cita tertinggi elo” Hasan mulai panas
“Iya, gw akuin elo emang cerdas, pinter dan banyak tahu lagi, tapi gw ga habis pikir, orang secerdas kayak elo ganyanya kayak orang Hippies, slow mamen, gw Cuma ngasih pendapat” Jawab Sarman sambil cengengas-cengenges
Sebenarnya, Hasan sudah ingin mencincang-cincang badan Sarman, tapi karena dia masih membutuhkan jasanya, makanya dia tetap menahan emosi
Sebulan kerja keras ternyata menghasilkan juga, untuk pertama kalinya, sms Hasan dibalas setelah serangan bertubi-tubi setiap hari, walaupun jawabannya tak sesuai harapan, tapi Hasan sangat senang bahkan kegirangan, hatinya pun ikut-ikutan berbunga-bunga. Inilah sms Nesy ;
“Maaf ya, tp tlng jngn gangu aq lg, aq sm skli tdk mnyukaimu, percma sj km sms aq trus, tlng ya, klo emg mnusia jgn sms lg”
Dengan cepat Hasan membalas
“Mansiawi khan jk da mnsia pngen mngenl stu sm laen”
“Iya, tp tdk dng mksa kyk gini”
“Hmm…trus gmn?”
“Ya aq tdk ska dng crmu mndkti aq, aq g da rsa ma km, jd klo aq g mau km cri jha ce lainnya”
“Tresno jalaran kulino, aq g mau klo blm dicba!”
“Trsrh, tp jgn slhkn aq jk kmnya skt hti”
“Ah, aq g mslh kok, hehehe”
Sebenranya Hasan juga bingung tentang bagaimana sakit hati karena wanita, selama ini dia berpikir hubungan sebuah pasangan tak lebih karena saling butuh dan mengerti satu sama lain, kalo salah satu sudah tidak mengerti mengapa harus dipertahankan, toh masih banyak yang lainnya, itulah mengapa dia bilang perasaan cinta tak lebih dari sebuah imajinasi yang terlalu dibesar-besarkan hingga orang terlalu mendramatisir dalam pikirannya, ujung-ujungnya, semua hal itu lari ke emosi atau perasaan, dia heran, ada temannya yang rela tidak makan, berkelahi, bahkan bunuh diri karena sakit hati. Dia sendiri juga ingin merasakannya, apa itu sakit hati?
Hp Hasan berbunyi kembali, tanda Nesy membalas.
“Ya dah, trsrah!”
“Eh, gmn klo qt brtmn jha dulu, ntr aq g akn mryu km dech, aggap jha biar lbh tau, sp tau pkrnku brbh”
“Ykin, bnr g?”
“Iya, smph dech”
Setelah itu, Hasan sering ikut dalam komunitas pergaulan Nesy, ternyata sangat membosankan, bicara hal yang tidak penting, Hasan merasa seperti masuk dalam kerumunan orang-orang idiot, atau malah dia yang dianggap idiot, pakaian rapilah, prestise lah, gossip lah, sok gaul lah, semuannya memuakkan bagi dia, tetapi demi Nesy dia belajar untuk menyesuikan. Hasan begitu heran, mengapa dia begitu mengagumi wanita ini, dilihat dari wajahnya tidak begitu cantik, biasalah, mungkin kepribadian yang unik itulah yang menarik baginya
Tiba-tibanya hatinya tersentak saat nongkrong bersama teman-teman Nesy, Hasan baru tahu ternyata sudah lama Nesy menyukai orang lain, mungkinkah ini cemburu atau sakit hati? Tapi Hasan sama sekali tidak merasakan kemarahan, dia tetap tenang, bahkan secara tak sadar dia juga ikut menyemangati Nesy untuk mengejar orang itu. “Ah, bukannya klo menyayangi harus senang melihatnya bahagia, mungkin dia akan bahagia dengan cowok itu” Pikir Hasan dalam hati
Sesampainya dirumah, pikiran Hasan malah makin berkecamuk, seperti ada perang, lebih dahsyat dari perang saudara yang marak belakangan ini. Antara logika dan perasaan, susah untuk dibedakan, seakan-akan pikiran itu keluar mewujud seperti dirinya menjadi Hasan A, B, C dan D lalu berbicara padanya ;
Hasan A ; “Lo kudu ngelepasin dia San, biarkan dia bahagia, jangan lo ganggu lagi”
Hasan B ; “Bangsat lo A, secara ga sadar Hasan dah cinta, klo cinta kudu dimiliki lah, hargai perasaan lo San”
Hasan C ; “Anjing lo semua, jangan dengerin mereka boy, cinta tuh bukan untuk dilepaskan, juga bukan untuk dimiliki, tapi cinta itu untuk diperjuangkan”
Hasan D ; “Lo nie tolol amat sie C, Hasan tu bukan cinta, tapi penasaran jha. Naluri laki-lakinya jha yang membawanya mengejar Nesy”
Hasan B ; “Kalian ga ada yang ngerti sejarah pa? Liat perjuangan Rama ngedapetin Shinta, Romeo dengan Juliet, semangat mereka tetap ada karena cinta, dan cinta harus mereka miliki”
Hasan A ; “Ya, masalahnya Nesy tuh ga cinta”
Hasan C ; “Kata siapa, Hasan juga belum nembak”
Hasan D ; “Tapi gw tetep yakin, tuh bukan cinta. Selama ini Hasan sangat mengerti tentang mengapa cinta itu ada dan mengapa cinta itu bisa lenyap, dia sangat memahami cinta tak lebih dari sebuah imajinasi yang terlalu didramatisir oleh pikiran”
Hasan C ; “Tau apa lo tentang cinta D, cinta itu seperti sampar, datangnya tak disadari, tapi efeknya sangat terasa, menyebar kemana-mana, liat ajha pikiran dan kelakuan Hasan udah berbeda jauh”
Hasan A ; “Apa mungkin Hasan sekarang sedang cemburu?”
Hasan B ; “Mungkin, tapi tak juga ah, soalnya yang dia bingungin pikiran dan perasaannya, bukan perempuannya”
Hasan D ; “Lah klo bukan cemburu berarti bukan cinta dong, udahlah gw yakin tuh bukan cinta”
Hasan A,B,C ; “Diam lo D, lo ga ngerti cinta!!,cinta terlalu kompleks untuk dijabarkan, apa lagi untuk dideskripsikan, lo harus ngalami jatuh cinta bila ingin tahu tentang cinta, walaupun lo bisa menjabarkan ilmu politik, lo bisa membedakan antara etika politik dan realita politik, tapi cinta terlalu suci untuk lo politisir!”
Hasan ; “Diam kalian semua! Ga usah ribut lagi, gw sekarang udah mulai paham!” Suara Hasan melengking seraya memegangi kepalanya hingga pikiran-pikirannya terdiam, kemudian dia melanjutkan
“Cinta itu manusiawi, cintalah yang membuat manusia lebih menjadi manusia sesungguhnya, hidup lebih hidup, dan cinta janganlah didikotomikan, kita harus mencintai semuanya, selama ini manusia hancur-menghancurkan karena tidak mengerti arti cinta, bahkan exploitasi yang berlebihan terhadap sesama manusia, cinta telah bergeser ke arah menguasai, baik dalam konteks pacaran, keluarga, negara, dan dunia sekalipun. Cinta harus dimurnikan sebagai landasan prinsip hidup manusia, cinta itu membuat indah, membuat damai, dan membuat tenang. Bukanlah cinta seorang suami memukul istrinya karena lalai dan tidak menurut, bukanlah cinta seorang ayah memukul anaknya yang nakal karena mengajarkan anak kekerasan, bukanlah cinta seorang pemerintah yang membangun pabrik di tengah pedesaan dengan alasan meningkatkan kemakmuran karena menimbulkan polusi dan mengambil lahan petani, bukanlah cinta bila pemimpin menindas rakyat, itulah naluri hewan yang ada dalam jiwa manusia, naluri penguasaan. Gw harus terbebas dari itu, gw harus mencintai dengan murni, cinta terhadap sesama, cinta terhadap alam, cinta terhadap semesta, dan cinta terhadap Tuhan
Hasan A,B,C, D ; “Bagaimana dengan Nesy?”
“Gw sangat yakin Nesy adalah pelengkap cinta gw, dialah yang akan mengendalikan emosi kebinatangan gw, bukankah Rama membutuhkan Shinta untuk mengendalikan kekuatannya yang terlalu besar bila dikendalikan seorang diri, Shintalah pengendali dan Ramalah kekuatan”
Hasan A,B,C,D ; “Elo masih mau mengerjanya tidak?”
“Biarlah waktu yang khan menjawab, yang jelas gw khan berusaha selalu disisinya, melindunginya, menemaninya, dan menjadi teman seumur hidupnya. Bila memang benar dia pendamping gw, maka cinta khan bersemi diantara kita dan selama itu, gw khan terus belajar tentang wanita, mengerti, memahami, dan menghargainya. Gw ingin menjadi imam tanpa menguasai, tapi saling melengkapi”
- Cintaisme

Sesat...??

“Suara-suara itu kembali datang, akhir-akhir ini dia sering mengunjungiku, tak peduli aku lagi makan, tak peduli aku lagi kerja, dan tak peduli waktu aku mandi maupun buang hajat. Tapi ini terdengar lebih keras, seperti sebuah sinyal, sinyal yang aku sendiri tak mengerti, apa sinyal dari malikat yang akan mencabut nyawaku, atau dia akan memberiku suatu misi. Aku sendiri tak takut, mengapa kalian mengatakan aku harus takut, bukankah kalian pintar dalam hal agama, mengapa menyuruhku takut, walau sekarat pun aku tak takut, karna aku sadar bahwa takut tidaklah menakutkan, hanya imajinasi, hanya perasaan, tidak berbentuk. Kalian anggap aku sesat, karna pandangankuku berbeda dengan kalian, siapa kalian?Tuhankah?bukankah kebenenaran itu relatif, dan biarkan aku benar sehingga aku benar menjadi manusia, menjadi bebas, menjadi apa adanya.”
 Solihin berhenti berbicara, matanya menerawang keawang-awang, seperti mengamati sesuatu. Pak Ustad yang dari tadi disamping ranjang Solihin berusaha berdialog dan membisikkan ayat-ayat suci ketelinga Solihin, seraya menyuruh Solihin untuk segera bertaubat dan takut kepada Tuhan. Tangis sanak keluarga menggema disetiap sudut ruangan 3 x 4 tersebut, udara pengap keringat manusia dan hawa ketakutan sangat terasa, hanya Pak Ustad dan Solihin tampak tenang. Ya, Solihin memang tengah sekarat, tubuhnya telah tak berdaya,sudah seperti mayat, hanya suaranya saja penanda dia masih hidup. Aneh memang,dia nampak sangat tenang mengadapi kematian, malah lebih tepatnya bahagia, apakah dia sangat yakin akan masuk surga?. Jendela dan pintu ruang tersebut sengaja tertutup karena keluarga malu apabila banyak warga yang melihat, seperti menyembunyikan sebuah azab, karena yang sekarat adalah orang yang mereka anggap sesat, orang yang mereka anggap murtad. Sudah cukup atas kebencian warga terhadap Solihin, kebencian akan bertambah apabila mereka mendengar kata-kata yang selalu keluar dari mulut Solihin. Kata-kata itu bisa membakar telinga manusia yang takut dan taat pada Tuhannya.
Solihin menutup matanya, mulutnya tersenyum, seperti melihat sesuatu, melihat indahnya masa lalu, masa yang susah, senang, sedih, ataupun saat sendiri karna semua orang meninggalkannya. Mengangkat kedua tangannyapun seperti beban yang sangat berat, lalu dengan perlahan menaruhnya diatas dada sambil menyatukan jari jemarinya dan memainkannya, Tubuhnya yang kurus kering, lemas, dan sekarat layaknya kayu lapuk akibat penyakit itu telah mengantarkannya dipintu kematian. Tapi heran, tak pernah sedikitpun dia mengeluh, bahkan paras kerut mukanya menggariskan ketegaran dan ketabahan yang hebat. Saat keluarga menjenguknya pun tidak akan merasa kasihan, tetapi takjub dan heran akan keadaannya. Tidak ada dokter dikampung tersebut, pegunungan dan sungai besar menjadikannya terisolasi, hanya Pak Mantri Gani saja. Dia pun tidak tahu jenis penyakit apa yang diderita Solihin, tekanan darah, detak jantung, pupil, dan lainnya normal seperti orang sehat, tapi mengapa Solihin bisa tak berdaya seperti itu? warga bilang itu kutukan karena dia mungkir dari ajarannya.
“Apa yang kamu lihat Solihin”, bisik Pak Ustad ditelinga Solihin
“Aku melihat suatu proses yang panjang akan hidupku, dimana aku sendiri tak menyangka akan proses itu. Apakah aku sedang membaca kembali suratan takdirku yang lalu” Solihin menjawab dengan tenang dan mata tetap tertutup
“Kau telah melihatnya, lantas apa pendapatmu” Dengan cepat Pak Ustad menyakan, karena dia sendiri penasaran bagaimana pendapat Solihin tentang masa lalunya, setahunya, Solihin orang yang dibenci dan dihina
“Begitu indah dan mengagumkan, bahkan aku selalu menikmati setiap kalimat suratan ini, saat sedih, saat bahagia” Jawab Solihin
Pak Ustad tersenyum mendengar jawaban itu, kemudia berkata “Benarkah?tapi bagaimana bisa kesedihan dinikmati”
“Kesedihan adalah anugerah, hayatilah, nikmatilah, hingga kita sangat menghargai kebahagiaan, begitu juga kekalahan dan kemenangan” Jawaban Solihin ini mengisyaratkan sebuah kemenangan besar hidup ditengah kebencian dan hinaan, Pak Ustad sendiri bingung, ada manusia yang dengan mudah melewatinya tanpa menyesal
“Apakah saat ini kamu sedih, saat dipenghujung nyawamu Solihin”
“Tidak, tidak Pak Ustad” seraya membuka mata dan memandang tajam ke arah Pak Ustad. Kemudia dia melanjutkan
 “Aku sama sekali tak mengerti pak Ustad, mengapa begitu banyak orang yang takut mati, sekarang yang aku rasakan seperti berada dalam kehampaan, kosong, aku tak merasa sedih atau bahagia, begitu mengalir, itulah kepasrahan, itulah keiklasan” Hati Pak Ustad tersentak mendengar jawaban ini, tak pernah ditemuinya selama bertahun-tahun menjadi pendamping saat sakarotul maut menemukan orang yang setenang ini menghadapinya, padahal, dia divonis sesat.
“Apakah ada hal mengganjal dalam hatimu?” Pak Ustad terus berusaha mencari celah dan berusaha membuat Solihin mendapatkan ketakutannya, takut akan sebagaimana manusia lainnya akan Tuhan, takut akan segala siksaannya.
“Satu-satunya hal yang mengganjal adalah perasaan itu sendiri, mengapa aku merasakan ini”
Pak Ustad sendiri heran dengan apa yang dikatakan Solihin, orang yang selalu mengoyak ketenangan masyarakat dengan statemen-statemennya. Pernah suatu waktu Solihin mengungkapkan bahwa Dialah alam semesta dihadapan majelis pengajian, bahwa jika dia tak ada maka alam semesta tak ada, dia adalah bagian alam semesta maka dialah alam semesta, maka jika dia adalah alam semesta maka diapun dapat merubah alam semesta. Apakah Solihin yang sangat kecil dapat merubah alam semesta yang begitu besar, seperti seekor semut yang berkehendak menghancurkan dunia. Spontan semua manusia dimajelis itu tertawa terbahak-bahak, dianggapnya kesesatan pikir membuat Solihin menjadi gila dan selalu berhalusinasi, tapi tak hanya disitu saja, Solihin malah menimpali tertawaan itu dengan mengatakan bahwa tak ada dirinya tak ada Tuhan, karena ada atau tiada adalah kehendak, dan dialah kehendak Tuhan, dan bila tak ada kehendak Tuhan maka Tuhan tak ada. Bukankah Tuhan Maha berkehendak. Suatu keberadaan akan absurd atau tak mungkin jika tidak ada suatu pembuktiannya, dan dia adalah pembuktian pertanyaan manusia tentang ada atau ketidakadaan Tuhan. Sempat juga Solihin menghina mereka dengan mengatakan bahwa mereka terlalu bodoh untuk disebut manusia, agama selalu menyuruh untuk menggunakan pikiran, menggunakan akal, tapi kalian hanya menggunakan perintah manusia-manusia yang kalian anggap tahu, dan tololnya kalian mematuhi dan menjalankan perkataannya. Bahkan dalam memahami ayat-ayat suci kalian lebih mempercayai orang yang kalian anggap benar itu daripada otak kalian sendiri, dia mengatakan “sekarang katakan padaku, bagaimana kalian menggunakan otak kalian, atau kalian tidak punya otak?” Serentak orang-orang geram dan membrutal kearah Solihin, bak dikejar singa Solihin lari kocar-kacir menyelamatkan diri, setelahnya, dorongan keluarga memaksa Solihin harus meminta maaf kepada orang-orang tersebut.
Walaupun dianggap sesat pikirannya, Solihin memang tidak pernah lupa mengerjakan Ibadah di Masjid, dia sangat rajin dan taat. Tetapi tetap saja dia dijauhi dan dipandang hina, bahkan orang-orang di mesjid pun selalu memandang dengan isyarat mata yang mengecilkan atau lebih tepatnya hinaan, saat itu juga senyuman khas Solihin yang lebar itu membalasnya.
“Aku mulai melihatnya Pak Ustad, inilah yang sangat mereka takutkan, inilah yang sangat dibenci orang, tetapi dia sangat indah dan menawan, dia mulai muncul dari dinding-dinding, dia melayang-layang dilangit-langit ruangan ini, dan tunggu dulu, ternyata dialah yang memberiku sinyal-sinyal itu, sekarang aku paham akan sinyal-sinyal itu” Mata Solihin bergerak kekanan-kiri melihat  langit-langit.
“Apakah itu malaikat pencabut nyawamu Solihin” Tanya Pak Ustad
“Bukan Pak Ustad, dialah sahabatku, dialah kawanku, mungkin kalian menyebutnya malaikat pencabut nyawa, tapi sebenarnya dialah sahabat kita, yang selalu menjadi bayang-bayang manusia dimanapun dia berada, tak peduli dimanapun, saat waktu kita tiba maka sang sahabat ini akan menemui sahabatnya, dia selalu berada disisi kita sepanjang waktu, dan menanti waktu kita untuk pergi bersamanya”
Suara tangis makin keras memenuhi setiap sudut ruangan tersebut. Memang, walaupun dianggap sesat pikir, bahkan oleh sanak keluarga, sikap Solihin yang sangat baik dan selalu membantu keluarga yang lain tidak bisa membencinya bahkan menyayanginya, dan hal itulah mengapa seluruh keluarga merasa terpukul melihat jalannya ritual kematian seorang anak manusia yang mereka sayangi. Tiba-tiba hawa dingin menjalar perlahan memenuhi ruangan, aroma bau aneh pun mulai tercium hidung, tetapi hawa dingin tersebut lain, hawa dingin yang menakutkan, aroma kematian. Para keluarga mulai gelisah, mungkin saatnya sebentar lagi, tetapi Solihin tetap tenang dan tersenyum, menanggapi fenomena tersebut Pak Ustad langsung membisikkan kembali ayat-ayat suci telinga Solihin.
“Saatnya sudah semakin dekat, kumohon, ikutilah setiap ucapanku Solihin, Asshadualla Illahillallo, waasshaduanna Muhammadarrosululloh” Kini dengan suara yang keras
“Apa makudmu Pak Ustad” Dengan nada sedikit tinggi seperti ledakan marah yang tertahan
“Sudah, Ikuti saja” seraya mengucapkannya berkali-kali ke telinga Solihin
“Engaku menghinaku Pak Ustad, taukah engkau wahai Ustad, setiap detik, setiap nafas, setiap langkah, aku selalu memuji namaNya dan nama Rosullulah dalam hatiku Ustad”
“Harus kamu ucapkan lewat lisan Solihin” Pak Ustad mencoba menenangkan
“Sesungguhnya ketulusan datang dari hati, dan sesungguhnya suatu kebaikan juga berasal dari hati, dalam hatiku hanya ada satu nama, dan itu hanya namaNya, seluruh tubuhku pun telah dirajah oleh namaNya”
“Kenapa kamu tidak sedikitpun merasa takut Solihin”, Kini Pak Ustadlah yang mulai geram
“Ketakutan hanya untuk mereka yang selalu menjilat kepadaNya, selalu menggunakan namaNya untuk kepentingannya, selalu dikelilingi rasa berdosa akan setiap tindakannya, karena mereka menghianatiNya, karena mereka tidak sungguh-sungguh menyebut namaNya atas rasa syukur, tetapi hanya memohon untuk mengharapkan timbal balik akan kemurahanNya, selalu mengeluh akan setiap cobaan, hanya mau senang saja, dan selalu merasa kurang…kurang…dan kurang….”
“Apa Maksudmu” sergap pak Ustad
“Dalam setiap do’a, aku tidak pernah meminta sesuatu apapun untukku kepadaNya, aku yakin Dia Maha Melihat sehingga tau akan kebutuhannku, aku yakin Dia Maha Penyayang, sehingga mengerti apa yang terbaik untukku, do’aku hanya syukur dan syukur kepadaNya, tak henti-hentinya aku memuji namaNya dalam setiap aliran darahku, dalam setiap nafasku”
Pak Ustad tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Solihin, dalam hatinya ada rasa takjub dan malu untuk mendengarnya,  walaupun dia seorang Ustad, seorang yang dianggap mengerti agama , seorang yang sangat dihormati,  berbeda dengan Solihin seorang yang selalu dimarginalkan, ingatan pak Ustad kembali ke masa kecilnya, dia dan Solihin adalah sahabat, dan dimasa kecil, dimasa masih arogan terhadap apapun, Solihinlah yang selalu mengingatkannya untuk segera beribadah jika waktunya tiba, bahkan sering kali dia mengancamnya, “Tak semestinya sebagai manusia kamu bertingkah sombong seperti ini” itulah ucapan yang teriang-iang ditelinga Pak Ustad,  ucapan manusia yang dianggap sesat, ucapan manusia yang sedang sekarat di depan matanya, ucapan manusia yang…arrghhh..tak sanggup lagi Pak Ustad berpikir, tak disadari air matanya berlinang, air mata kemurnian cinta sesama manusia, air mata seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu, tak sadar pun tangannya memegang tangan Solihin, adegan sebuah kerinduan, serentak seluruh keluarga di ruangan tersebut kaget bahkan berhenti menangis, apa yang sedang terjadi? Pertanyaan itu pun muncul dimasing-masing kepala mereka, mereka seperti keheranan melihat adegan tersebut. Sesungguhnya bukan merekalah yang paling heran, tetapi Pak Ustad, dia tidak hanya merasa heran,tetapi juga takjub bahkan malu, sangat malu,  Solihin adalah sahabat lamanya, selama ini mereka sering bertemu dan mengobrol, tetapi Pak Ustad tidak mengenalnya, sama sekali tidak mengenalnya, bahkan gelar Ustad itu makin memisahkan mereka,  maka kini mereka seperti bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, semenjak masa kecilnya, dan saat ini adalah saat mereka berjumpa kembali, kerinduan dua jiwa yang lama hilang.
“ Sudah lama sekali ya Pak Ustad” tiba-tiba suara Solihin memecah suasana
Pak Ustad tidak menjawab, hanya menangis, tangisan adalah ekspresi, sublimasi, hanya bisa dihayati, tidak lagi berguna penyesalan, rasa malu, rasa salah, rasa hina, semua terangkai ditiap tetes air mata. Itulah suara hati, ungkapan jiwa manusia yang tak terangkai kata, seperti senandung angin ditengah Oase, sejuknya menggetarkan nurani, menyayangi, mencintai, mengasihi. Selain itu apalagi yang bisa membahagiakan manusia.
“Sudahlah Pak Ustad, aku senang kau kembali, jangan malu atau menyesal” Solihin seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan pak Ustad
“Aku mohon, jangan lagi kamu panggil aku Pak Ustad, panggil aku Parman, sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu dari mulutmu, bukankah nama itu yang selalu kamu puji sewaktu kita masih kecil” Sekarang Pak Ustad memeluk memeluk Solihin, dia tenggelamkan mukanya diatas dada Solihin, tetes air matanya pun membasahi dada telanjang Solihin, meresap kedalam pori-pori, mencari jiwa didalam tubuh sahabatnya, sekedar untuk dapat memeluknya, mengutarakan segala penyesalannya, menyakinkan bahwa jiwa mereka khan tetap bersama, walau tubuh berpisah, tak apalah, tapi bila jiwa sudah bersahabat, maut bukanlah pemisahnya.
“Iya”
“Aku seperti menyesal dengan apa yang terjadi selama ini, mengapa aku tidak bisa mengenal dirimu seperti dulu sewaktu kecil, mengapa aku tidak bisa melindungimu saat  warga menghinamu, aku…aku…maafkan aku sahabat” Parman sudah tidak lagi mengutarakannya lewat kata
“Sudah Parman, Kamu sudah melakukannya” sambil mengelus-elus ubun-ubun sahabatnya
“Apa lagi maksudmu??” Parman malah bingung
“Selama ini kamu hanya diam, sebagai Ustad kamu tidak pernah bilang aku sesat, dan kamu sangat bijak, aku sangat menghormatimu, dan kamu sudah melindungiku sebagai sahabat, tahukah kau mengapa kau tidak dapat mengucapkan hal yang sama  seperti mereka (sesat), karena hatimu menolaknya, jiwamu selalu memperingatkanmu”
Parman alias Pak Ustad semakin malu, malu akan dirinya, malu akan gelarnya sebagai Ustad, baru kali ini dia merasa malu dan mersa tak pantas mendapat gelar itu, gelar itulah yang sesungguhnya selama ini menggagunggnya, mau diapakan lagi, bukan dia yang memberi gelar, tapi masyarakatlah, dia seperti terkunci dalam gelar tersebut, kewajiban dan tanggung jawabnya semakin besar, semua tingkah harus dijaga, harus bisa mengantar masyarakat, memang ada gelar diatasnya, yakni kyai, tetapi gelar Ustadpun baginya terlalu berat, mengapa harus ada gelar dalam Agama, bukannya semua harus saling menjaga, saling mengajar, saling mengisi, saling memberitahu, darimana datangnya sebuah gelar, gelarlah yang membuatnya merasa berbeda dari sahabatnya, dari masyarakat, dari asalnya.
Tiba-tiba hujan turun begitu derasnya, tetes-tetesnya memainkan senandung rindu, rindu kebersamaan yang akan terpisahkan, inilah tembang kematian. Salah satu keluarga membuka jendela, hingga semua melihat lebatnya hujan, udara ruangan yang pengappun menjadi dingin, walaupun hawa dan aroma kematian masih terasa, seperti ada sesuatu yang aneh, ada sebuah tawar menawar disini, yang tidak dipahami oleh semua orang kecuali Solihin sendiri, matanya menatap keatas, sebuah isyarat untuk sahabatnya yang lain, dia seperti mengulur kematiannya sendiri, hujan dan senandungnya menjadi saksi romantisme dua sahabat yang bertemu kembali.
“Parman”
“ya Solihin”
“Aku merasa akan dikenang”
“Pasti Solihin, pasti, kau begitu baik dan sangat ramah terhadap masyarakat”
“Bukannya mereka membenciku”
“Mereka membencimu karena belum mengenalmu”
“Hmmm….mungkin”
“Bukankah dulu banyak kaum muslimin yang dianggap sesat bahkan dibunuh, tetapi akhirnya mereka sekarang dijunjung dan diagungkan namanya”
“Tapi aku bukan mereka, aku pun tidak pernah mendengar tentang mereka, kecuali satu orang”
 “Siapa yang kamu kenal?” Tanya Parman sambil melepas pelukan dan menatap sahabatnya
“Muhammad”

Menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan cepat, lalu menjawab “Iya, kamu benar Solihin, dijamannya Beliau juga dianggap sesat, tetapi dengan kerja dan semangatnya beliau dapat meyakinkan seluruh manusia untuk mempercayainya” Parman memang pernah belajar akan hal itu, Muhammad dulu dicemooh, dihijat, dianggap sesat, tetapi dia membalasnya dengan kebaikan, dia membela kaum miskin dan tertindas, melindunginya, dan mengajak mereka ke jalan Allah, bukan agama lama mereka yang menyembah patung dan digunakan sebagai alat penindas bagi penguasa dan tokoh agamnya.
“Menurutku yang benar adalah keberanian dan keyakinannya akan kebenarannlah yang membuatnya bisa” dengan nada semangat
“iya kamu benar Solihin, bahkan dialah satu-satunya yang kutahu dapat mengabungkan antara agama dan politik, sekarang agama bukan menjadi landasan untuk berpolitik, tetapi agama selalu dipolitisir, agama selalu dijadikan alat stabilitas dan pembenaran oleh penguasa dan juga untuk bisnis” parman sadar betul akan keadaan sekarang, dimana agama digunakan sebagai pembenar untuk perang, pembenar untuk kekuasaan, pembenar untuk pembantaian, pembenar untuk ini…itu….bukankah agama itu ada untuk melindungi setiap insan manusia, menyejahterakan manusia yakni kemaslahatan umat, menjaga silahturahmi, apakah agama hanya berupa simbol tanpa aplikasi yang real?mungkin hanya waktu dan pendewasaan pola pikir yang bisa menjawabnya.
“Iya, kamu benar, dan untuk alasan itulah aku mohon kepadamu untuk menjaga kehormatannya, berikan mahkota emas diatas kemurnian ajarannya” menatap penuh harap kearah Parman
“Terbebas dari segala kepentingan pribadi dan kelompok”
“Ya, ya Parman, lakukan itu, kaulah harapan bagi masyarakat disini, dan tapi kau harus berani Parman”
“Ya Solihin” Dengan tegas Parman menjawab, padahal dia sendiri ragu untuk melakukannya, begitu kecil pengaruhnya, memang siapa dia? Parman bukanlah siapa-siapa, tak lebih dari Ustad disebuah kampong kecil yang terpentil dikelilingi gunung dan sungai besar, tapi melihat Solihin seperti ada tekad besar dan semangat besar, bagai tsunami meluluhkan seluruh kota, maka semangat itulah yang mulai menghanyutkan keraguannya.
“waktuku sudah tiba Parman, hujan sudah berhenti, tanah juga sudah sejuk untuk menerima kedatangan jasadku, aku sudah tidak bisa menawar lagi, selamat tinggal Parman, Selamat tinggal sahabatku”
Sebelum Parman mengucapkan kata-katanya, Solihin sudah tidak bernyawa lagi, matanya redup memandang keatas, bibirnya seperti tersenyum isyarat kepuasannya selama di dunia, Tangannya berada diatas dada seperti dalam posisi Sholat, Serentak air mata dan teriak histeris seluruh keluarga menggema, mereka memeluk tubuh Solihin yang tak bernyawa, Parman hanya menatap dengan pasrah, anehnya dia malah lebih tenang dari sebelumnya, air matanya pun telah terhenti, sperti masa baru telah datang kepadanya, tugas baru dan kewajiban baru, Parman kemudian menutup mata Solihin dengan membaca ayat-ayat suci, lalu tubuhnya menjauh, membiarkan para keluarga untuk memeluk dan menangisi tubuh itu. Hawa kematian dan aromanya masih terasa, Parman keluar meninggalkan ruang tersebut untuk memberitahu warga bahwa manusia yang mereka anggap sesat telah mati, apakah warga akan membantunya untuk mengurus pemakamannya atau malah menolaknya dikubur dikampung tersebut, parman sendiri tak tahu?warga sangat membencinya, dia takut apabila kebencian tersebut tidak hilang, walau anak manusia tersebut telah meninggal.
- Sesat...??